![]() |
| Cadas Puncak Gunung Kerinci sang Atap Sumatera |
Alhamdulillah, walau begitu kami
ditakdirkan menjejakkan kaki ke puncak!
Ceritanya begini.
Kami mendaki pada hari Rabu.
Sengaja tidak memilih hari sabtu dan minggu, sebab pada hari-hari libur bisa dipastikan gunung akan lebih ramai
pendaki. Kami turun gunung hari Jumat, dan benar saja, kami berpapasan jalan dengan
ramainya pendaki yang bergerak naik. Wah, dalam bayanganku, pasti mereka akan kesulitan mencari tempat bagus untuk
mendirikan tenda. Dan yang lebih seram, pasti susah cari tempat sembunyi untuk
buang air.
![]() |
| Puncak Gunung Kerinci 3805 mdpl |
Walau hanya yang penting-penting
saja barang yang dibawa, tetap saja tas carrier
yang menggantung di punggung ini rasanya tujuh kilogram. Tapi, kami juga tidak
mungkin sampai ke atas tanpa beban-beban ini. Air, pakaian, tenda, ransum....
Ughh!
Supaya beban tidak berat-berat
amat, kami menghindari membawa banyak air dari bawah. Akan tetapi, kami
menyimpan botol-botol kosong Aqua besar yang sudah dikempeskan ke dalam carrier. Nanti kami mengisi botol-botol kosong
tersebut di sumber air di Pos 3. Sumber air di Pos 3 memiliki suplai air yang
cukup melimpah dibandingkan dengan sumber air di Shelter 1, Shelter 2, dan
Shelter 3 yang hanya berupa cerukan kecil di parit tadah hujan. Berdasarkan
pengalaman kami, perjalanan dari Pintu Rimba ke Pos 1, meski memakan waktu tiga
jam, kira-kira perorang hanya menghabiskan satu botol Aqua ukuran sedang.
Cuacanya dingin, jadi kami tidak butuh banyak minum dalam perjalanan. Lagipula
kami malas kebelet pipis akibat banyak minum. Tapi sebaiknya kamu bawa cadangan
air sebagai antisipasi kalau sumber airnya kering. Oh iya, oralit penting
dibawa untuk menambah cairan tubuh.
![]() |
| Shelter 3 merupakan wilayah terakhir mendirikan camp bagi para pendaki. |
Air wudhu kami ganti dengan
tayamum di debu pepohonan atau batu-batu. Selain alasan menghemat air,
sebenarnya kami juga takut menyentuh air pegunungan yang sedingin es (jika kamu
membawa air biasa dari bawah, di atas nanti sudah berubah sedingin baru
dikeluarkan dari kulkas). Menjamak shalat ala musafir pun kami praktikkan.
Mendaki itu perjalanan panjang
yang menguras stamina. Kami bersyukur sudah kenyang makan nasi sebelum naik. Udara
yang dingin membuat kami cepat lapar, sementara ransum benar-benar terbatas. Akan
tetapi, lebih baik kelaparan sedikit daripada harus menambah beban carrier yang sudah setinggi kepala,
bukan? Ngirit banget makannya. Berat badan kakakku sampai turun dua kilogram,
loh!
![]() |
| Deburan awan Gunung Kerinci yang tengah bertasbih. |
Kami tidak membawa beras. Selain
berat dan ribet, kami tidak punya kompor canggih untuk memasaknya. Kompor kami
buatan sendiri dari kaleng Lasegar. Bahan bakarnya spirtus. Api yang dihasilkan kurang
besar untuk menanak nasi. Jadi, kami membawa nasi bungkus dari bawah. Beli tiga
bungkus di rumah makan. Satu bungkus dimakan bertiga biar irit. Wow, sampai dua
hari nasinya tidak basi walau tidak dipanaskan! Benar-benar udara di atas Gunung Kerinci seperti di dalam kulkas.
Kami nge-camp di Shelter 1 setelah berjalan selama dua jam dari Pos 3. Rombongan
pendaki lain ada yang terus melanjutkan perjalanan hingga ke Shelter 2 dan memasang
tenda di sana. Ada juga yang terus berjalan ke atas dan baru mendirikan tenda ketika
tiba di Shelter 3. Total lamanya perjalanan kami dari Pintu Rimba ke Shelter 1 adalah lima jam.
![]() |
| Dari Atap Sumatera: 2019 Ganti Presiden! |
Wuih, tengah malam kami dibangunkan
oleh rintik hujan dan angin ribut yang menampar-nampar tenda kami. Semoga tidak hujan Ya Allah, dan tendanya
jangan terbang... Semalaman kami waspada, alhasil, kami tidak bisa tidur
walaupun hujan tidak jadi turun dan tenda kami baik-baik saja hingga subuh.
Bbrrr... malam itu kami mengenakan jaket dobel, ditambah selimut emergensi (aluminium foil), dan ditambah lagi sleeping bag. Tentu saja kami juga
memasang kaus kaki dobel, syal, dan topi dingin. Masih saja dingin....
Besoknya setelah shalat subuh
dan makan-makan kecil, kami bergerak ke puncak. Di tengah jalan, matahari
jingga bersinar cantik, sunrise. Carrier yang super berat itu ditinggal
di camp sehingga kami bisa sejenak
bernapas lega. Udara masih sangat dingin padahal kami sudah memakai
perlindungan maksimal. Angin berhembus kencang mengepak-ngepakkan syal sarungku.
Telapak tangan dan telapak kaki kebas, rasanya seperti memegang bongkahan es,
perih seperti ditusuk-tusuk jarum. Kami lalu menambahkan jas hujan untuk
melapisi jaket kami yang sudah dobel. Ini cukup membantu mengurangi hawa dingin.
Tiga jam kemudian kami sampai ke puncak. Sangat lega dan puas sekali rasanya.
Di puncak ada kawah api,
berupa jurang yang sangat luas, curam, dan dalam, menggetarkan hati pokoknya.
Dari dalamnya keluar asap belerang yang menyengat hidung dan memerihkan mata. Dari
puncak, kami bisa melihat panorama Danau Gunung Tujuh, yakni danau yang
bertengger di sebuah puncak bukit—atau mungkin gunung. Aduhai, lautan awan
putih jelita yang berarak di bawah kaki.
Bukit-bukit dan gunung-gunung lainnya yang lebih rendah bagai mengawal
sang Atap Sumatera. Sawah, kebun, desa, kota, terlihat kecil-kecil nun jauh di
bawah sana.
Kami adalah rombongan pendaki
yang terakhir turun gunung hari itu. Ketika sampai di Shelter 1, hari sudah
beranjak malam, pukul 06.00 sore. Senter kepala harus kami hidupkan untuk
menerangi jalan menurun yang agak licin dan becek karena hujan gerimis. Cukup
mencekam berjalan malam-malam di tengah rimba hanya ditemani dua perempuan. Untungnya
kakakku wonder woman, jadi
kekhawatiranku berkurang sedikit. Selama tiga jam, kami berjalan tanpa henti
dari Shelter 1 ini hingga ke Pintu Rimba sana. Beristirahat hanya untuk minum
dua teguk air sambil melepas sebentar carrier
yang membebani pundak ketika tiba di ketiga pos—Pos 3, Pos 2, dan Pos 1—lalu
segera meneruskan perjalanan lagi.
Berbagai pikiran seram
berkecamuk. Bagaimana kalau salah jalan?
Bagaimana kalau tidak kuat melangkah lagi? Di belakang sudah tidak ada pendaki lagi yang
bisa dimintai tolong sebab kami rombongan yang terakhir turun. Dan perasaan
ini was-was seolah ada sesuatu yang mengintai di tengah kegelapan rimba yang
pekat.
![]() |
| Segarnya ngeteh |
Gerimis memang membuat jalanan
becek dan agak licin, menghambat kecepatan berjalan. Tapi kakakku yang berjalan
paling depan bersyukur karena tanah yang
becek membuat ia dapat melihat dan mengikuti jejak sepatu pendaki sebelumnya.
Kaki kami sebenarnya sudah mulai terasa melayang-layang menjejak tanah ketika
sampai di Pos 2 tadi, namun kami mengabaikannya, terus saja berjalan. Pukul
09.15 malam kami keluar dari Pintu Rimba. Leganya... Alhamdulillah.... Kakakku lalu menelepon Basecamp Mak Jus agar menjemput kami dengan mobil pick-upnya.
Begitulah petualanganku tiga hari tiga malam di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Tonton videonya aja biar lebih real....
Begitulah petualanganku tiga hari tiga malam di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Tonton videonya aja biar lebih real....







Hai...
BalasHapus