Senin, 17 September 2018

Cerita Lain di Balik Pesona Gunung Kerinci

Beberapa waktu lalu, aku mendaki Gunung Kerinci di Provinsi Jambi yang dijuluki sebagai Atap Sumatera. Ya, ini gunung tertinggi di Sumatera dengan ketinggian 3805 mdpl, sekaligus gunung tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Jaya Wijaya di Papua yang 4884 mdpl itu. Saat ini Gunung Kerinci sudah ramai pendaki. Kami bertemu pendaki bule, Malaysia, Makassar, Bandung, Jakarta, Surabaya, Padang, Bukit Tinggi, Pekan Baru, Medan, dan pendaki-pendaki dari dalam provinsi Jambi itu sendiri.

Cadas Puncak Gunung Kerinci sang Atap Sumatera
Ini kali pertama aku mendaki Gunung Kerinci. Pengalaman luar biasa karena aku mendaki hanya bersama dengan dua kakak perempuanku. Satu laki-laki (aku) dan dua perempuan (kakakku), nekat bertiga saja. Sebelumnya, pengalaman mendakiku baru di dua gunung di Sumatera Barat, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Talang. Satu kakakku sudah pernah mendaki beberapa gunung, dan satunya lagi sama sekali tidak pernah. Pertama kali mendaki langsung Gunung Kerinci ini!

Alhamdulillah, walau begitu kami ditakdirkan menjejakkan kaki  ke puncak! Ceritanya begini.

Kami mendaki pada hari Rabu. Sengaja tidak memilih hari sabtu dan minggu, sebab pada hari-hari  libur bisa dipastikan gunung akan lebih ramai pendaki. Kami turun gunung hari Jumat, dan benar saja, kami berpapasan jalan dengan ramainya pendaki yang bergerak naik. Wah, dalam bayanganku, pasti  mereka akan kesulitan mencari tempat bagus untuk mendirikan tenda. Dan yang lebih seram, pasti susah cari tempat sembunyi untuk buang air.

Puncak Gunung Kerinci 3805 mdpl
Kalau mau mendaki Gunung Kerinci, kamu bisa ke Basecamp Mak Jus dulu. Dari sini, kamu akan di antar ke Pintu Rimba dengan mobil pick-up. Pintu Rimba adalah gerbang antara lahan pertanian penduduk dengan rimba. Dalam pendakian ke puncak nanti, kamu akan melewati Pos 1, Pos 2, dan Pos 3, lalu Shelter 1, Shelter 2, dan Shelter 3, lalu puncak.

Walau hanya yang penting-penting saja barang yang dibawa, tetap saja tas carrier yang menggantung di punggung ini rasanya tujuh kilogram. Tapi, kami juga tidak mungkin sampai ke atas tanpa beban-beban ini. Air, pakaian, tenda, ransum.... Ughh!

Supaya beban tidak berat-berat amat, kami menghindari membawa banyak air dari bawah. Akan tetapi, kami menyimpan botol-botol kosong Aqua besar yang sudah dikempeskan ke dalam carrier. Nanti kami mengisi botol-botol kosong tersebut di sumber air di Pos 3. Sumber air di Pos 3 memiliki suplai air yang cukup melimpah dibandingkan dengan sumber air di Shelter 1, Shelter 2, dan Shelter 3 yang hanya berupa cerukan kecil di parit tadah hujan. Berdasarkan pengalaman kami, perjalanan dari Pintu Rimba ke Pos 1, meski memakan waktu tiga jam, kira-kira perorang hanya menghabiskan satu botol Aqua ukuran sedang. Cuacanya dingin, jadi kami tidak butuh banyak minum dalam perjalanan. Lagipula kami malas kebelet pipis akibat banyak minum. Tapi sebaiknya kamu bawa cadangan air sebagai antisipasi kalau sumber airnya kering. Oh iya, oralit penting dibawa untuk menambah cairan tubuh.

Shelter 3 merupakan wilayah terakhir mendirikan camp bagi para pendaki.
Karena langka air, kami mempersiapkan tisu basah dan tisu kering sebagai gantinya. Kegunaan tisu-tisu ini banyak sekali. Habis BAB bisa dibersihkan dengan  tisu basah dan dibilas dengan tisu kering  biar kayak orang Korea, haha... Dalam Islam namanya istinja. Tetap bisa menyucikan. Selain itu, tisu basah juga kami gunakan untuk mencuci tangan sebelum makan dan membersihkan muka waktu bangun pagi biar nggak kusam-kusam amat karena tidak mandi. Tisu kering bisa digunakan untuk mengelap peralatan masak dan fungsi dadakan lainnya.

Air wudhu kami ganti dengan tayamum di debu pepohonan atau batu-batu. Selain alasan menghemat air, sebenarnya kami juga takut menyentuh air pegunungan yang sedingin es (jika kamu membawa air biasa dari bawah, di atas nanti sudah berubah sedingin baru dikeluarkan dari kulkas). Menjamak shalat ala musafir pun kami praktikkan.

Mendaki itu perjalanan panjang yang menguras stamina. Kami bersyukur sudah kenyang makan nasi sebelum naik. Udara yang dingin membuat kami cepat lapar, sementara ransum benar-benar terbatas. Akan tetapi, lebih baik kelaparan sedikit daripada harus menambah beban carrier yang sudah setinggi kepala, bukan? Ngirit banget makannya. Berat badan kakakku sampai turun dua kilogram, loh!

Deburan awan Gunung Kerinci yang tengah bertasbih.
Oh ya, menurut pengalaman kami, cemilan yang paling cocok untuk menemani perjalanan mendaki  itu singkong bakar atau ubi jalar rebus. Ketika kami kehabisan energi, lalu makan singkong bakar walau cuma sepotong kecil, tenaga kami langsung pulih dan bersemangat lagi menembus track-track terjalnya Gunung Kerinci. Kalau makan cemilan-cemilan lainnya, badan masih loyo. Wah, kalau tahu begini, kami pasti bawa singkong atau ubi lebih banyak dikit. Tinggal cabut di kebun, tuh!

Kami tidak membawa beras. Selain berat dan ribet, kami tidak punya kompor canggih untuk memasaknya. Kompor kami buatan sendiri dari kaleng Lasegar. Bahan bakarnya spirtus. Api yang dihasilkan kurang besar untuk menanak nasi. Jadi, kami membawa nasi bungkus dari bawah. Beli tiga bungkus di rumah makan. Satu bungkus dimakan bertiga biar irit. Wow, sampai dua hari nasinya tidak basi walau tidak dipanaskan! Benar-benar udara di atas Gunung Kerinci seperti  di dalam kulkas.

Kami nge-camp di Shelter 1 setelah berjalan selama dua jam dari Pos 3. Rombongan pendaki lain ada yang terus melanjutkan perjalanan hingga ke Shelter 2 dan memasang tenda di sana. Ada juga yang terus berjalan ke atas dan baru mendirikan tenda ketika tiba di Shelter 3. Total lamanya perjalanan kami dari  Pintu Rimba ke Shelter 1 adalah  lima jam.

Dari Atap Sumatera: 2019 Ganti Presiden!
Esoknya kami membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan lagi. Lima jam kemudian kami sampai di Shelter 2, dan dua jam berikutnya tiba di Shelter 3.  Di sini merupakan wilayah terakhir untuk nge-camp bagi para pendaki. Di dalam tenda, kami menunggu malam berakhir sambil ngemil, merebus mie, dan menyeduh minuman hangat sebelum beranjak tidur. Nikmat sekali loh makan di gunung. Baru kali ini aku merasakan makan ubi jalar rebus langsung sama kulit-kulitnya alias tanpa dikupas saking laparnya!

Wuih, tengah malam kami dibangunkan oleh rintik hujan dan angin ribut yang menampar-nampar tenda kami. Semoga tidak hujan Ya Allah, dan tendanya jangan terbang... Semalaman kami waspada, alhasil, kami tidak bisa tidur walaupun hujan tidak jadi turun dan tenda kami baik-baik saja hingga subuh. Bbrrr... malam itu kami mengenakan jaket dobel, ditambah selimut emergensi (aluminium foil), dan ditambah lagi sleeping bag. Tentu saja kami juga memasang kaus kaki dobel, syal, dan topi dingin. Masih saja dingin....

Besoknya setelah shalat subuh dan makan-makan kecil, kami bergerak ke puncak. Di tengah jalan, matahari jingga bersinar cantik, sunrise. Carrier yang super berat itu ditinggal di camp sehingga kami bisa sejenak bernapas lega. Udara masih sangat dingin padahal kami sudah memakai perlindungan maksimal. Angin berhembus kencang mengepak-ngepakkan syal sarungku. Telapak tangan dan telapak kaki kebas, rasanya seperti memegang bongkahan es, perih seperti ditusuk-tusuk jarum. Kami lalu menambahkan jas hujan untuk melapisi jaket kami yang sudah dobel. Ini cukup membantu mengurangi hawa dingin. Tiga jam kemudian kami sampai ke puncak. Sangat lega dan puas sekali rasanya.
Kawah Gunung Kerinci yang menggetarkan hati.

Di puncak ada kawah api, berupa jurang yang sangat luas, curam, dan dalam, menggetarkan hati pokoknya. Dari dalamnya keluar asap belerang yang menyengat hidung dan memerihkan mata. Dari puncak, kami bisa melihat panorama Danau Gunung Tujuh, yakni danau yang bertengger di sebuah puncak bukit—atau mungkin gunung. Aduhai, lautan awan putih jelita yang berarak di bawah kaki.  Bukit-bukit dan gunung-gunung lainnya yang lebih rendah bagai mengawal sang Atap Sumatera. Sawah, kebun, desa, kota, terlihat kecil-kecil nun jauh di bawah sana.

Kami adalah rombongan pendaki yang terakhir turun gunung hari itu. Ketika sampai di Shelter 1, hari sudah beranjak malam, pukul 06.00 sore. Senter kepala harus kami hidupkan untuk menerangi jalan menurun yang agak licin dan becek karena hujan gerimis. Cukup mencekam berjalan malam-malam di tengah rimba hanya ditemani dua perempuan. Untungnya kakakku wonder woman, jadi kekhawatiranku berkurang sedikit. Selama tiga jam, kami berjalan tanpa henti dari Shelter 1 ini hingga ke Pintu Rimba sana. Beristirahat hanya untuk minum dua teguk air sambil melepas sebentar carrier yang membebani pundak ketika tiba di ketiga pos—Pos 3, Pos 2, dan Pos 1—lalu segera meneruskan perjalanan lagi.

Berbagai pikiran seram berkecamuk. Bagaimana kalau salah jalan? Bagaimana kalau tidak kuat melangkah lagi? Di  belakang sudah tidak ada pendaki lagi yang bisa dimintai tolong sebab kami rombongan yang terakhir turun. Dan perasaan ini was-was seolah ada sesuatu yang mengintai di tengah kegelapan rimba yang pekat.

Segarnya ngeteh
Pada saat-saat seperti itu, seorang kakakku malah teringat Yudha, pendaki hilang yang tugu peringatannya ada di perjalanan ke puncak. Pastilah dia ketakutan dalam kesendirian, kedinginan, kelaparan hingga akhirnya meninggal dan mayatnya tak pernah ditemukan. Oh ya, kalau kamu melihat Tugu Yudha, itu artinya kamu sudah dekat dengan puncak.


Gerimis memang membuat jalanan becek dan agak licin, menghambat kecepatan berjalan. Tapi kakakku yang berjalan paling depan bersyukur karena  tanah yang becek membuat ia dapat melihat dan mengikuti jejak sepatu pendaki sebelumnya. Kaki kami sebenarnya sudah mulai terasa melayang-layang menjejak tanah ketika sampai di Pos 2 tadi, namun kami mengabaikannya, terus saja berjalan. Pukul 09.15 malam kami keluar dari Pintu Rimba. Leganya... Alhamdulillah.... Kakakku lalu menelepon Basecamp Mak Jus agar menjemput kami dengan mobil pick-upnya.

Begitulah petualanganku tiga hari tiga malam di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Tonton videonya aja biar lebih real....


1 komentar:

Cerita Lain di Balik Pesona Gunung Kerinci

Beberapa waktu lalu, aku mendaki Gunung Kerinci di Provinsi Jambi yang dijuluki sebagai Atap Sumatera. Ya, ini gunung tertinggi di Sumatera ...